Terhitung hampir 50 hari yang lalu, kami menginjakkan kaki di Desa Gowong, sebuah desa di dataran tinggi Kabupaten Purworejo. Jauh dari hingar bingar perkotaan dan gemerlap lampu jalan, Desa Gowong menyimpan “keramaiannya” sendiri. Satu hal yang menarik perhatian penulis setibanya di sini adalah adanya banyak ibu dan anak-anak. Pemuda dan laki-laki usia produktif kebanyakan merantau ke kota besar untuk mencari penghidupan yang lebih baik bagi keluarga di rumah yang tinggal di Desa Gowong.

Hal yang menarik dari fenomena ini adalah keseharian ibu-ibu dan penduduk yang tinggal di Gowong. Lokasi desa yang akses menuju kota dan keramaian relatif jauh dan memakan banyak waktu tidak memungkinkan masyarakat Desa Gowong untuk mencari penghiburan ketika larut malam setelah hari berakhir.

Beberapa hari setelah Tim KKN-PPM UGM Bruno tiba di desa ini, khususnya kami yang ditempatkan di Dusun Kajoran Kulon, salah satu dusun teratas Desa Gowong, kami diajak serta untuk mengikuti kegiatan yasinan rutin yang diikuti oleh ibu-ibu Dusun Kajoran Kulon yang diadakan setiap Senin malam. Dengan mengenakan kalung tanda pengenal peserta KKN, kami berangkat menuju langgar yang hanya ditempuh selama beberapa menit dengan berjalan kaki. Penulis yang belum terbiasa melihat dalam cahaya temaram dibantu oleh cahaya senter dari layar ponsel untuk menerangi jalanan yang – meskipun nantinya akan menjadi jalan yang dilalui setiap hari selama 50 hari – pada saat itu belum familiar bagi kami.

Di sepanjang perjalanan singkat tersebut, semakin mendekati langgar semakin banyak kami bertemu ibu-ibu yang juga sedang menuju ke langgar untuk mengikuti kegiatan yasinan. Meskipun baru pertama kali bertemu, terlihat bahwa ibu-ibu tersebut sudah mengenal kami sebagai mahasiswa KKN yang akan mengabdi selama 50 hari di Desa Gowong. Kamipun sampai di langgar yang sudah penuh oleh jamaah yasinan. Ibu-ibu yang hadir tampak duduk bersandar pada tembok langgar dengan kain jarik yang digelar untuk melindungi kaki dari udara malam dingin desa Gowong dan serangga yang mungkin mengganggu.

Selepas bubarnya jamaah Isya’ dan berkumpulnya ibu-ibu, acara yasinan pun segera dimulai. Sama seperti yasinan pada umumnya, acara dimulai dengan tahlil, dilanjutkan dengan pembacaan yasin dan dilanjutkan dengan asmaul husna. Setelah rangkaian bacaan selesai, terdapat khutbah. Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan yasinan, kami mengerti bahwa khutbah setiap yasinan ini berisi berbagai macam materi, terkadang membaca kitab, di waktu lain membahas tentang sejarah budaya Islam dan perkambangannya, terkadang juga membahas amalan-amalan sesuai bulan di mana khutbah tersebut berlangsung. Seusai khutbah, kegiatan malam tersebut akan ditutup dengan doa. Apabila khotib berhalangan hadir, yasinan hanya berjalan dengan pembacaan bacaan tahlil, yasin, dan ditutup doa, tanpa khutbah. Satu hal yang tidak pernah berubah dan akan selalu ada dalam pelaksanan yasinan, adalah hidangan kerupuk yang disajikan dalam beberapa baskom yang nantinya akan dimakan bersama dengan teh tawar yang juga sudah disiapkan.

Malam-malam selanjutnya tidak pernah sepi. Di setiap malamnya, selalu ada kegiatan pengajian baik yasinan, berjanjen, ataupun kegiatan pengajian lainnya dengan jamaah yang berbeda-beda. Kami tidak selalu mengikuti kegiatan yang ada karena kesibukan melaksanakan program kerja yang lain, namun budaya pengajian rutin ini cukup berkesan bagi penulis.

Ketika kami menanyakan tujuan dari diadakannya acara-acara pengajian rutin ini, para ibu jamaah yang menjadi narasumber kami menjawab bahwa kegiatan semacam ini diadakan sekedar untuk mengisi waktu. Telah disinggung sebelumnya memang bahwa acara pengajian dapat menjadi kegiatan hiburan yang sesuai dengan keadaan masyarakat Desa Gowong. Menelaah lebih jauh dari pernyataan tersebut, penulis mencoba mencari sumber pendukung untuk menemukan signifikansi dari kegiatan pengajian dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di Desa Gowong.

Kegiatan pengajian merupakan salah satu bentuk ritual keagamaan yang dilaksanakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengutip tulisan Ta’rifin pada 2010, tradisi ritual keagamaan seperti pengajian yang termasuk yasinan dan berjanjen memiliki sakralitas tersendiri. Seiring berjalannya waktu, ketentuan-ketentuan tertentu tidak lagi diterapkan namun beberapa yang lain masih dipertahankan. Pada saat berjanjen misalnya, bagi penulis yang baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut, cukup menarik untuk membaca kitab barzanji dan mengikuti rangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Bacaan tertentu dilafalkan dengan berdiri, lalu ketika sampai pada bacaan lain jamaah duduk kembali. Ketentuan-ketentuan semacam itu tentunya sudah berubah seiring dengan berkembangnya Islam dan perubahan sosial budaya, bahkan dipengaruhi juga oleh perkembangan politik secara umum. Untuk menyisipkan pemahaman sekomprehensif mungkin dalam tulisan pendek yang penuh ini, kita akan meninjau secara singkat sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa.

Perkembangan Islam di Jawa sendiri kurang lebih sudah berjalan selama tujuh abad, yang tentunya akan sulit diringkas dalam satu artikel. Maka dari itu, mari melompat ke masa yang sedikit lebih baru. Pada sekitar tahun 80-an, dikenal luas istilah santri-abangan untuk menggambarkan masyarakat Islam di Pulau Jawa. Pengertian santri di konteks ini, mungkin akan sedikit bergeser dari pengertian santri yang kita ketahui pada saat ini, sekali lagi karena pergeseran kondisi sosial masyarakat itu sendiri. Di masa kini, istilah santri identik dengan Islam yang lebih tradisional, yang masih melaksanakan praktik-praktik keagamaan sebagaimana wali-wali dan pendahulu kita mengajarkannya. Kontras dengan pemahaman yang diadopsi banyak orang saat ini, pada masa lalu, santri adalah mereka yang lebih modern sedangkan abangan adalah mereka yang masih memegang kepercayaan tradisional pra-Islam di tengah ke-Islamannya.

Para santri yang lebih modern inilah yang mulai melakukan praktik-praktik religi sesuai dengan kaidah Islam seiring dengan perkembangan kondisi sosial budaya. Pada masa tersebut, (atau untuk lebih mudahnya akan kita rujuk sebagai masa orde baru karena persamaan periodenya) seperti dalam tulisan Ricklefs, masyarakat Jawa menjadi jauh lebih modern dalam kehidupannya, dapat dilihat dari tingkat literasi masyarakat yang meningkat dan standar hidup yang lebih baik daripada periode sebelumnya meskipun kemiskinan tetap menjadi masalah tersendiri yang selalu ada. Di satu titik bahkan pengajian sebagai salah satu bentuk praktik religi peninggalan para wali tidak lagi dianggap relevan dengan perkembangan jaman oleh para penganut Islam modern.

Di sisi lain, perkembangan di masa tersebut tergolong baru sehingga modernisasi yang ada belum menjangkau seluruh bagian masyarakat. Masyarakat di daerah yang lebih dekat dengan pusat kota lebih mungkin terpapar dengan paham-paham baru sehingga akan lebih dulu mendapatkan modernisasi. Sementara bagi masyarakat di daerah dengan akses yang lebih sulit atau jauh, perubahan standar hidup tetap terasa meskipun dalam skala yang lebih kecil. Misalnya, minat literasi yang meningkat belum dibarengi dengan kemampuan membaca huruf latin sehingga dibuatlah riwayat dan kitab-kitab berbahasa Jawa dengan aksara Arab yang dikenal dengan nama kitab pegon, yang sampai saat ini masih dapat ditemui dan digunakan salah satunya dalam kegiatan berjanjen.

Mungkin akan sulit melihat relevansi antara sejarah perkembangan Islam di Jawa dengan perkembangan praktik keagamaan di Desa Gowong. Akan tetapi, Desa Gowong yang berada di dataran tinggi Purworejo dan jauh dari pusat kota menunjukkan karakteristik salah satu lokasi yang di masa lalu mengalami modernisasi cenderung lebih akhir, dan hal ini juga berlaku dalam kegiatan Islamisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila praktik Islam tradisional masih sangat lestari di Desa Gowong.

Dalam retrospeksi, pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah mengapa praktik keagamaan tersebut masih dijalankan sampai saat ini meskipun modernisasi tampaknya sudah merata dan menjangkau seluruh pelosok negeri? Dari segi sosial budaya, Ricklefs menyatakan bahwa bentuk ritual keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai seperangkat aturan yang mengikat, melainkan berkaitan dengan keyakinan pribadi dan juga kebutuhan untuk menjadi religius. Kebutuhan ini datangnya dari dalam diri dan berbeda dari kebutuhan akan validasi orang lain. Oleh karena itu, absennya ritual keagamaan ini dirasakan sebagai sesuatu yang signifikan bagi masyarakat yang menjalankannya. Terlepas dari kegiatan pengajian yang mungkin menunjukkan identitas masyarakat atau golongan tertentu, pengajian dalam hal ini telah melekat dengan kebutuhan diri untuk berkeyakinan tanpa memandang siapa pelakunya.

Dari pemaparan diatas, kegiatan pengajian yang lekat dengan keseharian masyarakat Desa Gowong memiliki arti yang lebih dalam terutama bagi para pelaksananya. Bagi jamaah, kegiatan pengajian seperti yasinan, berjanjen, selapanan dan sebagainya merupakan kegiatan untuk mengisi waktu dalam malam sunyi di Desa Gowong. Lebih dari itu, budaya pengajian dan praktik-praktik religi yang dilestarikan tanpa disadari membentuk identitas dan menunjukan karakter dan sejarah masyarakat Desa Gowong, sehingga meskipun baru mengenal keberadaan desa ini selama kurang dari dua bulan lalu, dari kegiatan kecil ini penulis dapat melihat keistimewaan tempat dan masyarakat di desa kecil yang bersahaja ini.

Penulis: Leila Emira Royani


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *